Ringkasan Artikel Ini
Kain itu diperoleh dari banyaknya limbah kain dari Nanjung Cimahi, hingga Batujajar dan Cimareme Kab.
Limbah kain berupa perca-perca itu dijadikan banyak produk yang bermanfaat seperti keset, kain pel, hingga pengisi kasur dan boneka.
Atas ajakan Hendra, ia mulai merintis usaha jual beli kain perca ini dua tahun lalu.
Tak ada rutinitas khusus dalam pembelian ini karena pasokan kain perca tidak menentu, bergantung pada besaran produksi pabrik.
Hujan menyebabkan kain perca dan busa tidak bisa kering dengan cepat.
BAGI masyarakat di sekitar Desa Giriasih, Kec. Batujajar, Kab. Bandung Barat, mengolah limbah kain merupakan hal yang tak asing lagi sejak sepuluh tahun lalu. Kain itu diperoleh dari banyaknya limbah kain dari Nanjung Cimahi, hingga Batujajar dan Cimareme Kab. Bandung Barat.Limbah kain berupa perca-perca itu dijadikan banyak produk yang
bermanfaat seperti keset, kain pel, hingga pengisi kasur dan boneka.
Biasanya, kain perca dibeli oleh perajin keset di Kec. Cililin atau pembuat boneka di Cigondewah, Kota Bandung.
Salah satu pengumpul skala kecil-kecilan adalah Hendra (29) dan Ano (47). Mitra kerja itu mengaku pendatang baru dalam usaha jual-beli kain perca. Belum genap dua tahun mereka memulai usaha ini setelah sekian
lama mencoba beragam pekerjaan dan macam-macam profesi.Ano misalnya, merupakan -korban PHK pabrik tekstil pada tahun 1993. Atas ajakan Hendra, ia mulai merintis usaha jual beli kain perca ini dua tahun lalu.
Ano mengatakan, ia biasa membeli perca kain dari pabrik tekstil sebanyak satu truk setiap kalinya. Tak ada rutinitas khusus dalam pembelian ini karena pasokan kain perca tidak menentu, bergantung pada besaran produksi pabrik. Rata-rata, ia mendapat kiriman barang satu kali dalam sebulan seharga Rp 1 juta per truk.
Untuk kain perca kering, biasa dijual sangat murah yaitu sekitar Rp 1.000 per kilogram. Jika perca masih basah hanya laku terjual Rp 700 per kilogram. Sementara untuk harga jual busa, baik Ano maupun Hendra masih belum bisa menentukan harga pasti karena tidak ada harga standar untuk menjual busa.Ano optimistis, usahanya bisa maju dan berkembang karena permintaan sisa kain saat ini cukup banyak. Selain itu, ia mengaku cukup nyaman dengan pekerjaan barunya karena tidak bergantung pada atasan alias perusahaan.
“Meski cuma jual sisa sampah pabrik, tetapi jika dikelola dengan baik pasti bisa menghasilkan pendapatan yang lumayan,” ujar suami dari Cucu (37) dan ayah dua putra ini.Dalam usahanya ini, kata Hendra, masih harus menjual perca kepada pengumpul lain yang lebih besar sebelum langsung pada pengguna. Jika saja ia memiliki modal lebih besar dan usahanya sudah memiliki nama alias berbadan hukum, kata dia, pasti bisa memutus rantai pengumpul kedua.Sayangnya, musim hujan seperti sekarang menjadi kendala terhadap usaha mereka. Hujan menyebabkan kain perca dan busa tidak bisa kering dengan cepat. Basah ker-ingnya kain perca secara langsung akan berpengaruh pada penghasilan yang mereka peril. (Eva Fahas/”PR”)*
Posted by warungbarokah on 5th Februari 2011
Posted in bisnis | 9 Comments »