Barokah Solutions | Solusi Pasti, Usaha Anda !

Grosir Pulsa (Elektronik, Fisik, Perdana), Software Development, Konveksi, Merchandise, Promotions Gift, Corporate/Visual Branding, Chemical Industries

  • Alamat Kami

    Taman Pondok Mas Indah
    Jl. Pondok Mas Tengah No. 8
    Baros - Cimahi
    Jawa Barat, Indonesia 40532
    Phone :
    022. 7019 1200 / 9110 6181
    Fax :
    022. 664 6249 - 664 8149
    Hotline :
    0818 640 400
    0812 201234 04

  • Bisnis Grup

    Iklan

Archive for Juli, 2011

Daur Ulang Sampah Kardus

Posted by warungbarokah on 17th Juli 2011

DAUR ULANG SAMPAH KARDUS

Oleh: Mohamad Yusman
 yusmanmsc at email.com,  yusman61 at gmail.com

1. Latar Belakang
Kertas merupakan salah satu komoditi yang sangat dibutuhkan oleh hampir seluruh umat manusia didunia, Kehidupan modern kita sehari-hari kini tidak bisa lepas dari kertas yang bahan bakunya sebagian besar kayu hasil tebangan pohon dari hutan. Dengan demikian makin boros masyarakat memakai kertas, makin banyak pohon yang harus ditebang untuk dijadikan pulp (bubur) calon kertas. Sebagai gambaran kasar, untuk menghasilkan 1 ton serat asli pulp kimia diperlukan sekitar 1,5 ton kayu. Jadi dapat dibayangkan apabila penggunaan kertas hanya dipenuhi oleh serat asli maka akan berdampak langsung pada kelestarian lingkungan hidup.
Kebutuhan kertas di Indonesia apabila pada tahun 1987 hanya membutuhkan 782.420 ton maka pada tahun 1996 sudah mencapai angka 3.119.970 ton. Dan dari semua kertas yang dikonsumsi tersebut hanya sebagian kecil yang kembali ke pabrik untuk didaur ulang karena terjadi benturan kepentingan dengan penggunaan lain oleh masyarakat. Namun demikian bukan berarti kertas yang tidak kembali ke pabrik kertas tersebut sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat. Kertas bekas yang tidak termanfaatkan karena satu dan lain hal akhirnya akan bermuara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sehingga akan menambah volume sampah dan memperpendek umur TPA itu sendiri.

2. Daur Ulang Sampah Kertas/Kardus
Pemanfaatan kembali kertas bekas secara langsung untuk penggunaan lain merupakan upaya penghematan terhadap peningkatan kebutuhan kertas dari serat asli. Upaya guna ulang kertas bekas tersebut akan berdampak positif terhadap kemusnahan hutan dimasa mendatang.
Salah satu upaya daur ulang sampah kertas adalah memberi perlakuan terhadap kertas kardus bekas untuk dijadikan produk bahan pengemas kembali dengan ukuran yang sama atau lebih kecil. Hal yang perlu diperhatikan adalah permintaan jenis kardus biasanya harus seragam berdasarkan jenis gelombangnya, yakni kardus satu gelombang (one ply), 2 gelombang (two plies), dll. Disamping itu gelombang kardus tidak boleh dipress karena gelombangnya akan hilang dan mengurangi kekuatan kardus itu sendiri. Gambaran garis besar perlakuan terhadap kardus bekas adalah sebagai berikut:

Sedangkan diagram alir proses daur ulang kardus bekas disajikan pada gambar-2 berikut ini:

Lampiran Photo:


Limbah kardus


Pemotongan dengan Kachip untuk kardus ukuran kecil


Pemotongan dengan Eksentrik untuk kardus ukuran besar


Kardus ukuran kecil (mie instan) setelah dipotong Kachip


Mesin Pond sebagai pemotong dan pembentuk alur kardus bentuk baru


Mesin jahit kardus


Kardus hasil daur ulang

 

Sumber di kutip dari : http://3rindonesia.blogspot.com/2010/02/…

Posted in bisnis | Comments Off

PENCETAKAN LIMBAH PLASTIK SISTIM INJEK MANUAL

Posted by warungbarokah on 17th Juli 2011

PENCETAKAN LIMBAH PLASTIK SISTIM INJEK MANUAL

Oleh: Mohamad Yusman
 yusmanmsc at email.com,  yusman61 at gmail.com

1. PENDAHULUAN
Daur ulang merupakan upaya memanfaatkan kembali barang-barang yang dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis, melalui proses fisik maupun kimiawi atau keduanya hingga didapat suatu produk yang dapat dipergunakan dan diperjualbelikan lagi. Produk baru tersebut pada umumnya memiliki kualitas yang lebih rendah karena sudah kehilangan sebagian karakteristik bahannya. Berikut adalah sebagian nama-nama jenis sampah plastik yang biasanya didaur ulang (tabel-1).

Tabel-1 : Jenis-jenis Sampah Plastik yang Didaur ulang


Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember.
Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya.
Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi.

2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan suatu masalah yaitu:
1. Bagaimana sampah plastik dapat didaur ulang dengan biaya yang lebih murah dan tidak bergantung kepada industri besar plastik?
2. Adakah manfaat /keuntungan dari daur ulang sampah plastik sistim manual dilihat dari segi lingkungan dan ekonomi serta dampak positif bagi masyarakat dari sisi angkatan kerja?

3. KELAYAKAN TEKNIS DAN METODOLOGI
Mata rantai pekerjaan daur ulang plastik pada umumnya bermula dari :
1.Pemulung
2.Pengepul
3.Penggilingan bahan daur ulang plastik
4.Pembuatan pelet / biji plastik
5.Pabrik pembuatan peralatan /perabotan.

Rantai 1 hingga 3 sudah banyak dilakukan oleh para pelaku usaha daur ulang, sedangkan rantai 4 dan 5 masih terbatas dilakukan oleh pelaku daur ulang yang bermodal besar. Untuk itu, penerapan teknik pencetakan plastik sistim manual akan dapat mengurangi biaya investasi dan terjangkau oleh para pelaku daur ulang yang bermodal kecil.

Sistim manual pencetakan produk plastik pada dasarnya adalah memanaskan limbah plastik cacahan hingga meleleh dan mencetak dengan memberikan tekanan kepada cetakan yang sudah disediakan kemudian didinginkan. Produk yang dihasilkan tidak akan kalah mutunya dengan produk hasil pencetakan sistim otomatis. Secara skematik. proses manual dibandingkan dengan proses otomatis dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar-1: Perbandingan proses otomatis dan manual pencetakan limbah plastik

4. PROSPEK
Teknologi yang ditawarkan merupakan teknologi sederhana dan terjangkau oleh pelaku daur ulang plastik yang bermodal kecil. Dengan demikian maka diharapkan bahan baku daur ulang tidak harus selalu dikirim ke industri besar yang memerlukan transportasi tambahan tetapi cukup dicetak di tingkat lapak.

Disamping itu, upaya pengolahan limbah plastik menjadi produk yang fungsional dan memiliki daya jual tinggi pada saat ini memiliki prospek yang cukup cerah, apalagi saat ini isu pemanasan global dan kawasan hijau banyak didengungkan masyarakat dunia dan ini mampu menggugah kesadaran masyarakat untuk menghargai bahan-bahan sisa/limbah seperti limbah plastik.

5. MANFAAT EKONOMI
Dampak dari diterapkannya sistim manual pada pencetakan produk plastik disamping mengurangi eksploitasi penggunaan bahan baku murni (virgin material), mata rantai pengolahan limbah plastik juga akan melibatkan banyak pelaku daur ulang atau dengan kata lain dapat menyerap banyak tenaga kerja yang berarti dapat mengurangi beban pengangguran di tanah air.

 

 

Sumber di kutip dari : http://3rindonesia.blogspot.com/2010/02/…

Posted in bisnis | Comments Off

PENGELOLAAN LIMBAH PLASTIK DI INDONESIA: TANTANGAN, PELUANG DAN STRATEGI

Posted by warungbarokah on 17th Juli 2011

PENGELOLAAN LIMBAH PLASTIK DI INDONESIA: TANTANGAN, PELUANG DAN STRATEGI

Oleh: Mohamad Yusman
 yusmanmsc at email.com,  yusman61 at gmail.com

I. PENDAHULUAN
Sebagai bahan yang karena sifat karakteristiknya mudah dibentuk, tahan lama (durable), dan dapat mengikuti trend permintaan pasar, plastik telah mampu menggeser kedudukan bahan-bahan tradisionil dimana permintaan dari tahun ke tahunnya selalu menunjukan peningkatan. Kebutuhan plastik di Indonesia per kapitanya yang mencapai sekitar 7 kg per kapita relatif masih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya yakni sekitar 20 kg/kapita, namun dengan jumlah penduduk yang sangat besar maka total kebutuhan plastik Indonesia mencapai 24% dari total ASEAN dan berada pada peringkat kedua setelah Thailand (33%) (gambar-1). Secara keseluruhan hingga tahun 2002 diperkirakan total kebutuhan polimer di Indonesia akan mencapai 1,9 juta ton.

Meningkatnya pasar dan produksi barang plastik tersebut telah memberikan sumbangan positif terhadap devisa negara. Namun disisi lain, plastik-plastik yang sudah tidak terpakai oleh masyarakat akan dibuang dan berubah menjadi sampah. Dari total konsumsi plastik yang sudah mendekati 2 juta ton pada saat ini diperkirakan 80% berpotensi menjadi limbah. Jika keberadaan sampah plastik tersebut dibiarkan terus menerus tanpa ada upaya dalam penanganannya maka sudah dapat dipastikan penumpukan limbah plastik akan menjadi masalah yang besar. Hal ini disebabkan sifat karakterisitik sampah plastik itu sendiri yang sulit diurai oleh mikroorganisme. Penumpukan sampah plastik yang akhirnya bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) lambat laun akan memperpendek umur TPA itu sendiri.
Telah banyak upaya dilakukan dalam rangka penanganan limbah plastik ini, seperti substitusi sebagian bahan bakunya dengan menggunakan bahan yang mudah diperbaharui (renewable). Upaya ini sudah diterapkan di beberapa negara seperti Itali, India, Jepang dan lainnya yang dikenal sebagai plastik mampu urai (Environmentally Degradable Plastic/EDP). Di Indonesia berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi juga sudah mulai melakukan penelitian di bidang EDP ini seperti di ITB, P3FT LIPI, BBKKP maupun di BPPT sendiri. Sementara untuk limbah plastik yang non-degradable sementara ini dilakukan upaya pendaur ulangan sebagai salah satu cara untuk mengurangi tingkat laju timbulannya, hal ini ditandai dengan banyaknya industri daur ulang limbah plastik.
Keberadaan industri daur ulang limbah plastik di Indonesia telah memberikan nilai tambah bagi sebagain besar jenis sampah plastik dan mampu menciptakan suatu iklim usaha yang cukup menjanjikan serta mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar pula.
Laju kegiatan usaha daur ulang plastik yang telah banyak menyerap tenaga kerja disektor informal ini ditentukan oleh permintaan dan pemasokan terhadap pasar. Masuknya sampah plastik impor dari berbagai negara tetangga akan merusak stabilitas harga sehingga harga ditingkat pemulung akan jatuh ke level yang sangat rendah. Hal tersebut pernah dialami Indonesia hingga awal tahun 90-an hingga pada akhirnya pemerintah melalui Menteri Perdagangan mengeluarkan peraturan No. 349/Kp/XI/1992 tentang larangan impor sampah plastik masuk ke Indonesia.

II. SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH PLASTIK
Plastik merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan untuk hampir seluruh peralatan rumah tangga maupun keperluan lainnya seperti atomotif dan sebagainya. Produk barang plastik selain sangat dibutuhkan oleh masyarakat juga mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan antara lain limbah dari proses produksi dan plastik-plastik bekas yang dibuang masyarakat. Bahan-bahan plastik bekas tersebut cukup sulit untuk dikendalikan sebagai contoh pembakaran plastik seperti PVC dapat menimbulkan asap yang mengandung HCl sedangkan plastik bekas yang tidak terpakai akan menimbulkan masalah dalam penimbunan sampah akhir karena plastik tidak dapat membusuk sehingga mengurangi efisiensi penimbunan sampah. Sampah plastik merupakan mayoritas komponen sampah yang mudah ditemui di sungai dan di bantaran sungai.
Plastik bekas adalah semua plastik yang berasal dari semua jenis barang yang terbuat dari plastik yang sudah tidak digunakan lagi. Sebagian besar dari plastik bekas ini banyak terdapat di dalam sampah yang dibuang oleh masyarakat juga di bantaran sungai. Plastik bekas berdasarkan jenisnya dapat dikelompok-kelompokkan, yaitu plastik bekas yang dapat digunakan kembali hanya dengan mencucinya dengan sabun dan air saja, tetapi ada jenis plastik bekas yang harus dihancurkan atau dibuat bahan baku yang berbentuk pelet/butiran, selain itu ada pula plastik bekas yang sudah tidak dapat digunakan lagi, plastik jenis ini biasanya plastik yang berasal dari plastik dari pemanfaatan kembali atau plastik yang sudah berulang kali penggunaannya.
Jenis plastik bekas yang dapat dimanfaatkan kembali dengan cara dicuci dengan air dan sabun antara lain botol dan alat pengemas lainnya yang berwarna putih transparant, seperti botol cuka, kemasan sabun cream, botol aqua dan lain sebagainya. Barang-barang plastik bekas yang dapat digunakan sebagai bahan baku dengan pengolahan lebih dahulu sebetulnya cukup banyak, hampir semua jenis peralatan rumah tangga yang terbuat dari plastik dapat diolah kembali dengan cara dikelompokkan berdasarkan jenis plastiknya dan warnanya, karena warna biasanya dapat menunjukkan apakah plastik tersebut masih dapat digunakan kembali.
Secara garis besar sistem pengelolaan limbah plastik saat ini dapat dilihat pada Gambar 2.
Jika ditinjau proses produksi plastik dari hulu hilir, maka keseluruhan sistem plastik terdiri dari beberapa subsistem yang saling berkaitan yaitu :
• subsistem bahan baku primer yang merupakan proses penyiapan bahan baku plastik yang diambil dari minyak bumi (sumber daya alam) sampai diperoleh bahan baku primer berupa bijih plastik asal (virgin),
• subsistem proses produksi yang merupakan proses pembuatan produk plastik,
• Subsistem pengelolaan sampah plastik merupakan satu kesatuan dengan sistem pengelolaan sampah kota karena sampah plastik merupakan salah satu komponen sampah kota. Subsistem ini terdiri dari proses timbulnya sampah plastik, sistem pengumpulan dan pengangkutan serta sistem pembuangan akhirnya.
• Subsistem daur ulang plastik terdiri dari proses pengumpulan sampah plastik yang dapat didaur ulang oleh pemulung, proses pengolahan yang saat ini hanya dilakukan pemilahan jenis plastik, penggilingan sekaligus pencucian, dan pengeringan serpih plastik yang kemudian dikemas dan dikirim ke pabrik plastik sebagai bahan baku sekunder.
Secara rinci, sistem daur ulang sampah plastik di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 3.

Sampah plastik yang terbuang di lingkungan akan secara tidak langsung merusak ekosistem melalui (1) sumbatan pada sistem saluran air yang menyebabkan sedimentasi dan banjir, (2) merusak lahan subur seperti hutan mangrove karena keberadaan sampah plastik menutupi permukaan dan mengurangi sistem pengudaraan, dan (3) karena sifatnya yang tidak dapat membusuk, akan mengurangi kapasitas lahan pembuangan akhir sampah. Untuk mengurangi sampah plastik dapat dilakukan upaya penggunaan kembali (Reuse), pengolahan untuk bahan baku sekunder produk plastik lain (Recycle), dan penggunaan untuk produk sama sekali lain misalnya bahan kimia/monomer dan energi (Revovery), yang dikenal dengan 3 R.

Selain itu, pengurangan sampah plastik dapat dilakukan dengan :
Subtitusi bahan baku – mengganti unsur/bahan produk dengan bahan yang mudah di daur ulang, tidak membutuhkan energi banyak, dll.
Pengurangan limbah – mengurangi jumlah produk atau pembungkusnya, sehingga mengurangi jumlah limbah per unit produksi.
Perpanjangan daur hidup – memperpanjang umur produk dan komponen-komponennya dapat mengurangi terbentuknya limbah.
Kemudahan untuk dapat dipisahkan dan bongkar pasang – kemudahan pemisahan dan pemanfaatan bahan menggunakan teknik tertentu sehingga setiap bagian mudah terpisahkan dan di daur ulang.
Daur ulang – menjamin kandungan produk dan buangan produk untuk dapat didaur ulang.
Mudah dalam pembuangan – menjamin bahwa bahan-bahan yang tidak dapat di daur ulang dapat dibuang dengan aman dan efisien.
Mudah digunakan kembali – memaksimalkan seluruh komponen produk dapat di manfaatkan, diperbaharui dan digunakan kembali.
Remanufaktur – memungkinkan pemanfaatan hasil-hasil pasca industri atau pasca penggunaan dapat digunakan sebagai bahan baku sekunder untuk proses lainnya.

III. ASPEK-ASPEK
Aspek-aspek yg diperkirakan mempengaruhi sistem pengelolaan sampah plastik antara lain :

• Aspek teknologi.
Untuk saat ini, teknologi yang banyak digunakan dalam pengolahan sampah plastik hanyalah teknologi pencucian, penghancuran sampah plastik dan teknolgi pembuatan bijih plastik. Teknologi tersebut digunakan hanya untuk proses daur ulang jenis sampah plastik tertentu. Plastik yang terbuang sebagai sampah seperti plastik lembaran bekas kemasan makanan anak-anak belum dapat tertangani dan memenuhi lahan pembuangan akhir dan badan air. Sampah jenis ini dapat diolah untuk produk baru melalui teknologi pelelehan (ekstrusi). Aspek teknologi merupakan hal yang cukup penting dalam sistem pengelolaan sampah plastik. Sampai saat ini teknologi pemusnahan sampah plastik yang efisien dan aman masih sangat sedikit. Teknologi pemusnahan yang paling umum dilakukan adalah membakar sampah plastik berikut sampah lainnya sehingga terurai menjadi unsur-unsur CO, CO2, H2O, dan polutan lain yang terbawa asap hasil pembakaran dan teknologi ini dianggap sangat mempunyai risiko pada pencemaran lingkungan terutama udara.
Upaya lain dalam penanganan sampah plastik adalah dengan cara penimbunan tanah atau yang dikenal dengan sanitary landfill. Cara ini banyak dilakukan yakni dengan memasukan limbah plastik yang masih kurang diminati untuk didaur ulang bersamaan dengan sampah padat lainnya kedalam tanah kemudian ditimbun dengan tanah. Penimbunan dengan cara ini tentunya memerlukan berbagai persyaratan agar tidak menimbulkan permasalahan baru.
Cara daur ulang plastik (recycling) sudah banyak dilakukan di Indonesia dimana pada umumnya sampah plastik yang berasal dari berbagai sumber diproses dengan cara penggilingan dan pelelehan kemudian dibentuk menjadi berbagai macam produk. Berikut beberapa jenis sampah plastik yang banyak didaur ulang beserta produk yang dihasilkannya.

Pirolisis merupakan upaya lain dalam mendaur ulang sampah plastik, namun belum banyak dilakukan di Indonesia. Cara ini merupakan cara dekomposisi fisik maupun kimiawi dengan menggunakan panas tanpa adanya oksigen. Melalui cara ini plastik akan terdekomposisi menjadi molekul yang lebih kecil atau monomernya. Berikut beberapa cara pirolisis yang sudah dikembangkan di negara lain:

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi keberadaan dan memanfaatkan sampah plastik adalah pembakaran dengan menggunakan tungku (incinerator) serta memanfaatkan panas hasil pembakaran tersebut menjadi sumber enerji. Pada umumnya plastik memiliki nilai panas (heating value) lebih tinggi dari sampah lain, sekitar 2 hingga 4 kalinya. Dengan demikian maka pemanfaatan enerji dari hasil pembakaran sampah plastik merupakan alternatif yang patut dipertimbangkan. Namun perlu digarisbawahi bahwa cara pembakaran ini apabila tidak dirancang dengan benar maka akan menimbulkan permasalahan baru. Sebagai contoh pembakaran PVC akan menghasilkan asam HCl dan pembakaran urethanes menghasilkan HCN. Disamping itu, pembakaran yang kurang sempurna akan menghasilkan jelaga. Dibandingkan dengan pembakaran sampah biasa, pembakaran sampah plastik memerlukan 3 hingga 10 kali udara pembakar. Behan pencemar lain yang akan timbul sebagai akibat dari pembakaran sampah plastik adalah air atau bahan kimia lain yang berfungsi menangkap senyawa asam. Air yang digunakan untuk menangkap HCl dari hasil pembakaran akan menjadi asam dan harus diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan sungai.
Alternatif lain dalam rangka mengurangi keberadaan sampah plastik adalah dengan cara mengurangi penggunaan barang-barang berbahan baku plastik atau menggantinya dengan barang yang non-plastik. Salah satu contohnya adalah mensubstitusi bahan plastik dengan bahan yang mudah diurai dan dihancurkan oleh lingkungan seperti bahan-bahan environmentally degradable polymers (EDPs). Penggunaan EDPs ini sekarang sudah mulai diterapkan di beberapa negara seperti Italy, Korea, dan India.

• Aspek kelembagaan
Aspek kelembagaan meliputi instansi dan organisasi yang khusus menangani sampah plastik khususnya dan barang plastik pada umumnya. Kelembagaan mempunyai fungsi yang penting dalam mengeluarkan sistem pengelolaan sampah plastik secara menyeluruh dan komprehensif termasuk didalamnya penerbitan peraturan yang berkaitan dengan sistem pengelolaan sampah plastik pada khususnya dan plastik pada umumnya. Sampai saat ini, instansi yang terkait dengan sistem pengelolaan sampah plsatik adalah Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang mengatur secara langsung sistem pengelolaan plastik dari bahan baku sampai ke produk. Kementerian Lingkungan Hidup mempunyai tugas dan fungsi dalam pengelolaan lingkungan hidup termasuk berbagai dampak yang ditimbulkan akibat proses pembuatan plastik dan produk barang plastik yang sudah tidak terpakai dan dibuang ke lingkungan. Pemerintah Daerah cq. Dinas Kebersihan merupakan instansi terdepan dalam pengelolaan sampah plastik dalam sistem pengelolaan sampah kota.

• Aspek kebijakan/peraturan perundang-undangan
Aspek pengaturan merupakan kumpulan peraturan yang mengatur sistem pengelolaan sampah plastik. Aspek pengaturan dapat dimulai dari penggunaan sumber daya alam untuk bahan baku plastik sampai pengelolaan sampah plastik. Dalam hal sampah plastik, baru peraturan S.K Menteri Perdagangan No. 349/Kp/XI/1992 tentang larangan impor sampah plastik ke Indonesia yang berkaitan langsung dengan sampah plastik. Dalam prinsip dasar pencemaran lingkungan akibat buangan bahan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, maka ada prinsip yang menyatakan bahwa pembuang limbah yang merusak lingkungan harus menanggung beban biaya yang ditimbulkan (polluter’s pay principle). Pengaturan ini dapat saja diterapkan di Indonesia sehingga perusahaan pembuat produk plastik dapat beramai-ramai iuran untuk membantu pengelolaan sampah plastik sehingga tidak mencemari lingkungan. Searah dengan sudah berjalannya sistem daur ulang plastik di masyarakat secara luas, maka peraturan yang mengatur mengenai sistem ini sebaiknya segera dipikirkan. Misalnya (1) pemberian label jenis plastik pada semua produk plastik yang dapat di daur ulang sehingga memudahkan pengumpulan oleh para pemulung, (2) pengaturan proses pengambilan sampah plastik di sumber-sumber sampah oleh pemulung, dan (3) pengaturan mengenai usaha daur ulang sampah plastik yang sebaiknya mendapat dukungan dari Pemerintah sebagai mitra dalam upaya pelestarian lingkungan, (4) posisi tawar antara pemulung dan pengusaha daur ulang, (5) mengintegrasikan kegiatan pengolahan limbah plastik kedalam sistem pengelolaan sampah keseluruhan.

• Aspek ekonomi
Daur ulang sampah plastik terutama dari jenis plastik keras seperti LDPE, HDPE, PP, dan lain-lain sudah tidak dapat disangkal lagi mempunyai prospek ekonomi yang baik. Prospek tersebut dapat dilihat dari banyaknya pemulung yang terlibat dalam proses daur ulang plastik, besarnya pasar yang membutuhkan plastik daur ulang sebagai bahan baku sekunder, dan sulitnya memperoleh sampah plastik untuk industri daur ulang pada tahun terakhir ini. Sebagai contoh Jakarta merupakan ibu kota negara dan kota metropolitan yang terbesar di Indonesia tidak luput dari masalah penanganan sampah. Dengan penduduk kota sebanyak 9 juta jiwa, Jakarta harus mengelola sebanyak 21.000 m3 sampah per hari atau setara dengan 5.000 ton per hari. Jika komposisi sampah plastik mencapai 7 % dan diserap oleh pemungut barang bekas 50% saja maka jumlah plastik yang diproses kembali sekitar 175 ton per hari. Maka jika pasaran harga per kilogram plastik Rp. 500,-, uang yang berputar dalam bisnis daur ulang plastik ini dapat mencapai sekitar 80 juta rupiah per hari atau 2,4 milyard rupiah per bulan setara dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 4.000 tenaga kerja dengan upah rata-rata Rp. 600 ribu per bulan.
Disisi lain, untuk memusnahkan plastik yang tidak mempunyai pasar daur ulang seperti produk kemasan dan kantung-kantung plastik yang banyak digunakan di supermarket, mall, dan lain sebagainya, diperlukan biaya yang cukup mahal mulai dari penelitian awal sampai implementasi peralatan. Teknologi ekstrusi (pelelehan) yang dapat memproses segala jenis plastik dan menghasilkan produk untuk genting, bangku taman, dan sebagainya yang diperkenalkan oleh salah satu perusahaan asing, kemungkinan dapat menjadi salah satu teknologi pemusnahan plastik kemasan, akan tetapi memerlukan biaya cukup besar. Dalam kasus seperti ini, maka Pemerintah dan pengusaha sebaiknya bekerja sama untuk menciptakan suatu mekanisme tataniaga plastik dan limbah plastik mulai dari produsen hingga konsumen. Mekanisme tersebut akan memberikan peluang kesempatan kerja terutama bagi mereka yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki keahlian.

• Aspek peran serta masyarakat
Peran serta masyarakat sangat penting peranannya dalam sistem pengelolaan sampah plastik. Di beberapa negara maju, masyarakat sudah terbiasa tidak menggunakan kantung plastik untuk membawa barang yang dibeli dari super market atau mall. Mereka telah menyadari dampak buruk yang diakibatkan oleh pembuangan maupun pembakaran sampah plastik. Dengan demikian, buangan sampah plastik dari jenis kantung dan kemasan dapat banyak terkurangi. Dalam penggunaan sehari-hari, masyarakat dapat membantu lingkungan dari pencemaran barang plastik bekas seperti (1) menggunakan produk plastik yang sudah tidak dipakai untuk kegunaan lainnya misalnya bekas-bekas ember untuk pot tanaman dan sebagainya. (2) membiasakan membawa keranjang untuk berbelanja, dan (3) tidak membeli barang dengan kemasan plastik yang tidak dapat didaur ulang (4) memilah sampah plastik mulai dari sumbernya.
Dalam kinerja sistem pengelolaan sampah plastik, maka aspek-aspek diatas perlu dimasukkan dalam pengkajian dari setiap subsistem. Pemilihan teknologi juga berkaitan sangat erat dengan aspek lainnya. Sebagai contoh, dalam memilih teknologi untuk pengolah kembali sampah plastik yang setidaknya dapat menghambat plastik menjadi sampah, maka aspek ekonomi merupakan hal yang perlu dipertimbangkan lebih dahulu. Apapun teknologi yang dipilih jika produknya tidak mempunyai pasar yang baik, maka teknologi ini tidak sustainable artinya tidak dapat berkembang dengan baik di mayarakat.

IV. AGENDA BERSAMA
Kaitannya dengan lembaga internasional, BPPT bekerjasama dengan The International Center for Science and High Technology (ICS-UNIDO) berencana mendirikan mini plant untuk daur ulang limbah plastik maupun EDP untuk jenis produk plastik yang selama ini kurang diminati untuk didaur ulang. Diharapkan kerjasama ini dapat melibatkan berbagai fihak/instansi dan perguruan tinggi yang selama ini telah dan sedang melakukan kajian dan penelitian terhadap daur ulang plastik maupun EDP.
Peran masing-masing institusi/instansi harus disesuaikan dengan tugas dan fungsi pokok dari institusi/instansi tersebut. BPPT dan instansi lain yang berkecimpung dalam pengkajian teknologi akan memfokuskan diri pada aspek teknologi. Demikian juga dengan instansi/institusi lain akan memfokuskan sesuai dengan tugas dan fungsi pokok mereka.

VI. PENUTUP
Peningkatan penggunaan plastik disatu sisi telah mendatangkan manfaat yang cukup besar serta memberikan sumbangan positif terhadap devisa negara, namun disisi lain karena sifat yang sulit diurai oleh lingkungan maka produk plastik yang sudah menjadi sampah akan menimbulkan masalah baru. Namun demikian, keberadaan sampah plastik di Indonesia pada umumnya justru telah menciptakan iklim usaha yang menguntungkan serta dapat menyerap tenaga kerja yang cukup besar melalui upaya daur ulang plastik.
Karena upaya daur ulang plastik ini memiliki potensi yang cukup besar dan menguntungkan bagi lingkungan karena telah dapat mengurangi keberadaannya maka perlu dilakukan sistim pengelolaan sampah plastik yang benar serta melibatkan berbagai aspek yang saling terkait satu sama lainnya. Aspek-aspek dimaksud adalah Aspek teknologi, kelembagaan, pengaturan, ekonomi, dan aspek peran serta masyarakat.
Alternatif lain dalam rangka mengurangi keberadaan sampah plastik adalah dengan cara mengurangi penggunaan barang-barang berbahan baku plastik atau menggantinya dengan barang yang non-plastik. Substitusi bahan plastik dengan bahan yang mudah diurai dan dihancurkan oleh lingkungan seperti bahan-bahan environmentally degradable polymers (EDPs) sekarang sudah mulai diterapkan di beberapa negara seperti Italy, Korea, dan India. Di Indonesia upaya tersebut masih dalam taraf percobaan skala laboratorium. Untuk melangkah kearah pilot plant dan skala industri maka diperlukan kerjasama, baik dengan mitra Indonesia sendiri maupun dengan fihak luar seperti ICS-UNIDO, Univ. of Pisa Italy, dan sebuah perusahaan swasta China.

Sumber di kutip dari : http://3rindonesia.blogspot.com/2010/02/…

Posted in bisnis | Comments Off

DAUR ULANG LIMBAH GARMEN

Posted by warungbarokah on 17th Juli 2011

DAUR ULANG LIMBAH GARMEN

Oleh: Mohamad Yusman
 yusmanmsc at email.com,  yusman61 at gmail.com

1. PENDAHULUAN
Di wilayah Bandung terdapat lebih dari 300 perusahaan tekstil yang tersebar di tiga wilayah, yaitu di Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kota Cimahi. Di Kabupaten Bandung industri tekstil terkonsentrasi di tiga wilayah, yaitu wilayah timur (sepanjang Jalan Cileunyi-Cicalengka-Majalaya), wilayah tengah (sepanjang Jalan Mohammad Toha–Dayeuhkolot–Majalaya), dan wilayah barat (sekitar Nanjung dan Padalarang). Di Kota Cimahi, lokasi industri tekstil terkonsentrasi di sekitar Leuwigajah. Untuk wilayah Kota Bandung penyebaran industri tekstil berbeda dengan penyebaran dengan Kabupaten Bandung maupun Kota Cimahi. Di Kota Bandung, penyebarannya cenderung tidak terkonsentrasi dalam satu sentra.
Daerah Majalaya selama ini sudah dikenal sebagai sentra penghasil tekstil sejak tahun 1950-an yang mampu menghasilkan aneka ragam produk tekstil seperti sarung, kain untuk bahan pakaian, handuk, benang, kain kasur dan lain-lain. Saat itu betul-betul merupakan masa keemasan bagi Majalaya. Bahkan saking makmur dan terkenalnya tekstil Majalaya, kota ini pun mendapat julukan baru sebagai Kota Dollar. Kemajuan dan ketenaran Majalaya sebagai kota kecil penghasil industri tekstil membuat kepincut Wakil Presiden RI saat itu, Bung Hatta, untuk meninjau secara langsung keberadaan industri tekstil di Majalaya.
Saat ini, peralatan produksi yang digunakan para pengusaha umumnya bervariasi mulai dari aplikasi teknologi alat tenun bukan mesin (ATBM) hingga mesin tenun modern. Dan dari data Persatuan Pengusaha Tekstil Majalaya (PPTM), anggota PPTM yang tercatat adalah 220 perusahaan namun yang aktif hanya 52 perusahaan dengan tingkat utilisasi mesin sekitar 60%..
Kegaiatan proses produksi yang berlangsung didaerah Majalaya dan sekitarnya tersebut menghasilkan sampah yang mayoritas berupa sampah anroganik yakni sampah dari sisa-sisa produksi seperti sisa benang, kain potongan, kones bekas gulungan benang, kardus bekas pengepak benang, dan masih banyak jenisnya lagi. Barang-barang sisa tersebut apabila dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar melalui upaya daur ulang menjadi produk yang memiliki nilai jual maka akan dapat memberi keuntungan dan mengatasi beragai masalah ekonomi setempat.

2. DAUR ULANG LIMBAH INDUSTRI GARMEN

Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai menjadi produk baru. Produk baru tersebut pada umumnya memiliki kualitas yang lebih rendah karena sudah kehilangan sebagian karakteristik bahannya.

Secara garis besar, kegiatan daur ulang digambarkan seperti terlihat pada Gambar 1. Untuk masyarakat Majalaya dan sekitarnya dimana daerah mereka dipenuhi oleh industri garmen, kegiatan pendaur-ulangan dapat berada pada tingkat pengolahan yang menghasilkan produk antara untuk disuply ke industri pengolah atau produk jadi dengan menggunakan proses dan peralatan sederhana. Kegiatan pada tingkat ini diperkirakan dapat menyerap 40 hingga 50 orang per lokasi kegiatan, tergantung ketersediaan modal yang ada dan jenis limbah garmen yang diprosesnya

2.1. Produk Daur Ulang: Keset
Keset berbahan baku limbah garmen memiliki kekuatan dan penampilan yang tidak kalah bersaing dengan yang berbahan baku non-limbah. Bahan bakunya berupa pinggiran kain yang sudah dibauang oleh industri garmen dan disebut tali. Tali yang sudah terkumpul dan dipisah menurut jenis warna dan jenis kainnya kemudian diproses/tenun dengan menggunakan alat tenun yang disebut Tustel. Untuk memberi ikatannya digunakan bahan yang disebut Lusi. Untuk pekerja yang sudah mahir dapat menghasilkan produk keset sebanyak 1,5 kodi atau sejumlah 30 keset per hari atau sekitar 40 kodi per bulan. Pemasaran produk keset tidaklah sulit karena disamping harganya murah juga sudah banyak Bandar/pengepul yang siap menampung hasil keset terseut untuk selanjutnya didistribusikan.dipasarkan ke seluruh pelosok Indonesia. Diagram proses pembuatannya dapat digambarkan sebagai berikut:

2.2. Produk Daur Ulang: Celana Pendek/ Kolor
Celana pendek/kolor menggunakan bahan baku kain sisa produksi pabrik dengan berbagai ukuran antara lain: 0.5 meter atau kurang, 1.0 m, dan 2 meter keatas, Bahan-bahan tersebut dapat dijadikan produk dengan berbagai ukuran, mulai dari kecil, sedang, besar, dan jumbo. Proses pembuatannya adalah sebagai berikut:

2.3. Produk Daur Ulang: Lap dari Benang Sisa
Terdapat berbagai jenis dan warna benang dari sisa produksi yang masih menempel pada kones. Benang-benang tersebut dikelompokkan menurut jenis dan warnanya kemudian disambung dan digulung ulang melalui mesin Reel hingga didapat gulungan besar hasil gabungan dari sisa-sisa benang. Gulungan besar benang sisa ini selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pada alat tustel. Produk setengah jadi yang keluar dari alat ini kemudian diberi perlakuan akhir dengan cara merapikan bagian pinggirnya dengan mesin obras dan mesin jahit. Dan setelah diberi label serta kemasan maka produk ini sudah dapat dilempar ke pasar. Rangkaian prosesnya adalah sebagai berikut:

Lampiran Photo:


Gambar 5: Limbah majun tali dari industri garmen


Gambar 6: Limbah majun tali yang sudah disambung-sambung dan digulung


Gambar 7: Majun tali gulungan yang sudah dimasukkan ke Coban


Gambar 8: Proses pembentukan keset dari limbah majun tali


Gambar 9: Produk keset dari limbah majun tali yang siap dijual

 

 

Sumber : http://3rindonesia.blogspot.com/2010/02/…

Posted in bisnis | Comments Off

Eh, ternyata si perca bisa menghasilkan duit jutaan rupiah

Posted by warungbarokah on 9th Juli 2011

Sisa potongan kain yang dikenal dengan kain perca ternyata bisa disulap menjadi produk yang bernilai ekonomis, seperti bed cover, seprai, gorden, dan banyak lagi. Namun untuk mencapai sukses di bisnis produk kain perca ini perlu kreativitas yang tiada henti.

Dengan bermodal kreativitas, potongan kain sisa jahitan bisa diolah menjadi aneka produk menarik yang menguntungkan. Kain yang akrab disebut kain perca itu bisa disulap menjadi seprai, bed cover, tas kain, selimut, gorden, dan banyak lagi.

Salah satu pemilik tangan kreatif yang mengolah kain perca itu adalah Metavia, pemilik Fafa Quilts & Craft di Jakarta Barat. Metavia membuat kerajinan kain perca itu dengan menggunakan teknik quilting atau teknik menyambung bagian kain yang terpisah.

Hingga kini, ibu dari lima anak itu memproduksi aneka produk, seperti bed cover, selimut, karpet, gorden, tas kain, handuk hingga celemek, dan taplak meja. Metavia mengolah kain perca karena hobi yang sudah ia lakukan sejak 1994 silam. “Saya suka membuat perlengkapan rumah tangga dengan modifikasi quilting,” katanya.

Agar menguasai teknik quilting secara fasih, Metavia belajar otodidak dengan mengandalkan guru berupa buku literatur. Dia rutin membaca buku tentang quilting ala Jepang hingga Eropa. Setelah bisa, Metavia mengawali membuat produk dengan membuat perlengkapan kamar tidur dari kain perca. “Saya sempat berhenti pada 1998 karena anak-anak masih kecil,” terang Metavia.

Setelah sang anak memasuki usia sekolah, Metavia kembali menekuni kerajinan kain perca pada 2004. Namun saat dia memulai lagi bisnis ini, pesaing sudah menjamur. Namun Metavia tidak putus asa. Bagi dia, kompetisi itu cambuk semangat untuk terus membuat produk yang lebih menarik.

Nah, untuk memenangkan persaingan, Metavia tidak mau hanya mengandalkan kain perca. Ia juga membeli kain baru sebagai bahan pendukung produknya. “Penambahan kain untuk memberi warna lain dalam teknik quilting,” jelasnya.

Setiap karya Metavia dijual dengan harga beragam, tergantung model dan tingkat kesulitan pembuatannya. Seperti bed cover berbahan kain perca katun dia jual mulai Rp 1 juta sampai Rp 4 juta per set. Adapun sarung bantal, Metavia menjual mulai dari harga Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per potong.

Dengan bantuan enam karyawan, kini Metavia mampu memproduksi 1.000 potong sarung bantal dan ratusan produk kerajinan lain seperti bed cover, tas kain, atau gorden. Dari semua jenis produksi itu, dalam sebulan, setidaknya Metavia mampu meraup omzet hingga sebesar Rp 300 juta.

Namun demikian, Metavia mengaku kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya. Menurut Metavia, saat ini sangat sulit mencari karyawan yang sudah terampik dan menguasai teknik quilting. Karena itu, “Kalau pesanan lagi banyak, saya limpahkan ke kelompok penjahit di Cianjur,” ujarnya.

Selain Metavia, mengolah kain perca juga dilakukan Maria Risnawati, pemilik CV Sinar Kreatif di Surabaya. Maria mengolah kain perca menjadi bed cover, selimut dan tas kain. Ia tertarik mengolah kain perca karena bisa membuat produk yang beragam dan unik. “Pilihan banyak membuat konsumen tidak bosan,” kata Maria yang buka usaha itu sejak 2008 itu.

Saban bulan Maria memproduksi 100 unit produk dari kain perca. Soal harga, seperti satu set bed cover, dia lepas di harga Rp 1 juta sampai Rp 2 juta. Sedangkan untuk produk tas kain, Maria menjual mulai Rp 100.000 sampai Rp 200.000 per potong. Dari jualan produk dari kain perca itu, Maria mampu menghasilkan omzet sebesar Rp 120 juta per bulan.

 

Sumber dikutip dari : http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1320818173/82260/Eh-ternyata-si-perca-bisa-menghasilkan-duit-jutaan-rupiah-

Posted in bisnis | No Comments »

Menyulap Limbah Kain Jadi 'Keset'

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Dedi Mulyadi Ali :

Menyulap Limbah Kain Jadi ‘Keset’

BERKAT tangan-tangan terampil, limbah kain bekas dari industri garmen yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, ternyata mampu menjadi barang yang mampu menghasilkan rupiah. Limbah kain perca inilah yang kini dapat menghidupi sejumlah rumah tangga sekitar kampung Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, setelah disulap menjadi ‘keset’.

Adalah H. Dedi Mulyadi Ali, warga Bukit Semarang Baru (BSB) yang memanfaatkan peluang usaha dan memberdayakan masyarakat sekitar. Idenya muncul tatkala dia kerapkali menjumpai limbah kain perca di sejumlah industri garmen yang hanya teronggok tak berguna. Melihat kondisi demikian, bapak 3 putra yang kebetulan bekerja di perusahaan garmen sejak puluhan tahun ini lantas tergerak untuk mencoba mencari peluang dalam memanfaatkan limbah tersebut.

Setelah melakukan survei ke sentra-sentra industri yang ada di Jawa Timur, terlintaslah ide untuk menyulap limbah kain perca itu menjadi ‘keset’ (alas kaki). Setelah melalui berbagai proses uji coba dan pembuatan alat-alat serta mesin pendukung industri yang sederhana, maka pada tahun 2008 dirintisnya home industri berbasis limbah kain perca itu.

Sejak berdirinya hingga saat ini, setidaknya ada 6 karyawan tetap yang membantunya merangkai keset. Selain itu, industri ini juga memberdayakan warga di lingkungan sekitar, yang membantu dengan pembuatan uliran kain dengan kain perca.

“Kami berusaha memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, dengan cara menyuplai kain perca ke sejumlah rumah tangga untuk dibuat ulir, dan kemudian menyetorkannya kembali dengan upah Rp300/kilogram,” kata pria kelahiran

Aceh 48 silam ini.

Menurut Dedi, meski program keterlibatannya dengan masyarakat ini baru mulai dirintis, namun keterlibatan masyarakat di sekitarnya sudah cukup tinggi. Setidaknya kini ada 60 rumah tangga yang bersedia melakukan kemitraan ini.

“Kami berharap program ini bisa menjadi program kemitraan yang setidaknya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan, dan setidaknya kami mentargetkan ada 200 rumah tangga yang nantinya dapat bergabung dan terbentuk sistem klaster industri,” harap Dedi saat ditemui di home industrinya.

Melalui program kemitraan dengan warga sekitar, kini setidaknya dalam sebulan rata-rata dapat diproduksi lebih dari 2.000 pieces keset beraneka macam variasi. Bahkan, dengan ide dan kreatifitasnya, kini tak hanya keset saja yang diproduksi, tetapi juga kain pel, tali, dan sumbu kompor yang volume produksinya masih tergolong minim.

Saat ini setidaknya ada 4 macam variasi keset, yakni keset tenun, bidangan, mutiara dan oval,” ujar mantan atlit tinju nasional, yang kini aktif sebagai pembina tinju di Pertina Kota Semarang.

Untuk bahan baku, lanjutnya, saat ini pihaknya menampung dari berbagai industri garmen yang ada dengan modal pembelian Rp1.250/kilogram. Selain itu, dibutuhkan pula benang seharga Rp300 per gulungan.

“Harga jual untuk per pieces dihargai Rp7.500, dan untuk pembelian dalam jumlah kodi dihargai Rp4.500/pices,” terangnya.

Sedangkan soal pasar penjualan, selain dipasarkan di lokal Semarang, kini produk keset tersebut juga telah menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra. Selain itu, permintaan dalam partai besar juga banyak berdatangan dari Jakarta, Sumatra, dan Kalimantan.

“Untuk pasar Semarang sendiri kini sekitar 50% dan sisanya 50% untuk memenuhi permintaan dari luar kota,” pungkasnya. (alien)

 

 

Belajar Membaca Peluang Bisnis

BERBEKAL pengalamannya di dunia usaha, lelaki kelahiran Banda Aceh 13 Maret 1963 silam ini nampaknya tak pernah mau berhenti untuk berinovasi. Ide kreatifnya selalu muncul tatkala dia melihat adanya peluang-peluang bisnis yang cukup menggiurkan.


“Saya memang selalu ingin mencoba hal baru sebagai tantangan, khususnya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada,” ujar Dedi Mulyadi Ali.

Keinginannya untuk membuka peluang usaha ini juga didukung dengan adanya niat untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Maka dibuatlah home industri keset, yang berpusat di Perumnas Bukit Beringin Lestari Kapling 33, Ngaliyan, Semarang.

“Ide ini sebenarnya muncul pertama kali saat melihat banyaknya kain perca sisa industri garmen yang hanya dijadikan sebagai sampah saja,” kata Dedi, yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.

Menurutnya, teramat disayangkan jika sampah industri tersebut harus terbuang sia-sia. Sedangkan dalam suatu perjalanan ke Jawa Timur, yakni di daerah Malang, sempat dilihatnya  kain perca untuk alas buah yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Begitu pula ada yang hanya dijadikan bahan isian pembuatan jok maupun kasur.

“Dari situlah saya mencoba membaca peluang bisnis dari kain perca agar lebih memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” terang Dedi, yang telah lama berkecimpung di industri garmen di Semarang.

Dari pengamatan itulah, Dedi lantas berpikiran untuk menjadikan kain perca tersebut dalam bentuk keset. Namun, pada awalnya memang tidak mudah untuk membentuk sebuah keset secara praktis. Untuk itu, dia berupaya merekayasa pembuatan mesin khusus untuk mengulir kain-kain perca yang ada dan juga mesin tenun.

“Mesin yang ada cukup sederhana, dan merupakan hasil rekayasa sendiri untuk mempermudah pekerjaan membuat keset,” jelasnya.

Saat ini, sejak awal berdiri hingga kini setidaknya ada 4 mesin hasil rekayasa yang telah dimiliki untuk mempropduksi keset. Selain itu, untuk memperbanyak volume produksi, kini pembuatan keset juga melibatkan warga di sekitarnya. (alien)

 

Sumber dikutip dari : http://alienjozz.multiply.com/journal/it…

Posted in bisnis | Comments Off

Menyulap Limbah Kain Jadi 'Keset'

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Dedi Mulyadi Ali :

Menyulap Limbah Kain Jadi ‘Keset’

BERKAT tangan-tangan terampil, limbah kain bekas dari industri garmen yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, ternyata mampu menjadi barang yang mampu menghasilkan rupiah. Limbah kain perca inilah yang kini dapat menghidupi sejumlah rumah tangga sekitar kampung Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, setelah disulap menjadi ‘keset’.

Adalah H. Dedi Mulyadi Ali, warga Bukit Semarang Baru (BSB) yang memanfaatkan peluang usaha dan memberdayakan masyarakat sekitar. Idenya muncul tatkala dia kerapkali menjumpai limbah kain perca di sejumlah industri garmen yang hanya teronggok tak berguna. Melihat kondisi demikian, bapak 3 putra yang kebetulan bekerja di perusahaan garmen sejak puluhan tahun ini lantas tergerak untuk mencoba mencari peluang dalam memanfaatkan limbah tersebut.

Setelah melakukan survei ke sentra-sentra industri yang ada di Jawa Timur, terlintaslah ide untuk menyulap limbah kain perca itu menjadi ‘keset’ (alas kaki). Setelah melalui berbagai proses uji coba dan pembuatan alat-alat serta mesin pendukung industri yang sederhana, maka pada tahun 2008 dirintisnya home industri berbasis limbah kain perca itu.

Sejak berdirinya hingga saat ini, setidaknya ada 6 karyawan tetap yang membantunya merangkai keset. Selain itu, industri ini juga memberdayakan warga di lingkungan sekitar, yang membantu dengan pembuatan uliran kain dengan kain perca.

“Kami berusaha memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, dengan cara menyuplai kain perca ke sejumlah rumah tangga untuk dibuat ulir, dan kemudian menyetorkannya kembali dengan upah Rp300/kilogram,” kata pria kelahiran

Aceh 48 silam ini.

Menurut Dedi, meski program keterlibatannya dengan masyarakat ini baru mulai dirintis, namun keterlibatan masyarakat di sekitarnya sudah cukup tinggi. Setidaknya kini ada 60 rumah tangga yang bersedia melakukan kemitraan ini.

“Kami berharap program ini bisa menjadi program kemitraan yang setidaknya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan, dan setidaknya kami mentargetkan ada 200 rumah tangga yang nantinya dapat bergabung dan terbentuk sistem klaster industri,” harap Dedi saat ditemui di home industrinya.

Melalui program kemitraan dengan warga sekitar, kini setidaknya dalam sebulan rata-rata dapat diproduksi lebih dari 2.000 pieces keset beraneka macam variasi. Bahkan, dengan ide dan kreatifitasnya, kini tak hanya keset saja yang diproduksi, tetapi juga kain pel, tali, dan sumbu kompor yang volume produksinya masih tergolong minim.

Saat ini setidaknya ada 4 macam variasi keset, yakni keset tenun, bidangan, mutiara dan oval,” ujar mantan atlit tinju nasional, yang kini aktif sebagai pembina tinju di Pertina Kota Semarang.

Untuk bahan baku, lanjutnya, saat ini pihaknya menampung dari berbagai industri garmen yang ada dengan modal pembelian Rp1.250/kilogram. Selain itu, dibutuhkan pula benang seharga Rp300 per gulungan.

“Harga jual untuk per pieces dihargai Rp7.500, dan untuk pembelian dalam jumlah kodi dihargai Rp4.500/pices,” terangnya.

Sedangkan soal pasar penjualan, selain dipasarkan di lokal Semarang, kini produk keset tersebut juga telah menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra. Selain itu, permintaan dalam partai besar juga banyak berdatangan dari Jakarta, Sumatra, dan Kalimantan.

“Untuk pasar Semarang sendiri kini sekitar 50% dan sisanya 50% untuk memenuhi permintaan dari luar kota,” pungkasnya. (alien)

 

 

Belajar Membaca Peluang Bisnis

BERBEKAL pengalamannya di dunia usaha, lelaki kelahiran Banda Aceh 13 Maret 1963 silam ini nampaknya tak pernah mau berhenti untuk berinovasi. Ide kreatifnya selalu muncul tatkala dia melihat adanya peluang-peluang bisnis yang cukup menggiurkan.


“Saya memang selalu ingin mencoba hal baru sebagai tantangan, khususnya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada,” ujar Dedi Mulyadi Ali.

Keinginannya untuk membuka peluang usaha ini juga didukung dengan adanya niat untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Maka dibuatlah home industri keset, yang berpusat di Perumnas Bukit Beringin Lestari Kapling 33, Ngaliyan, Semarang.

“Ide ini sebenarnya muncul pertama kali saat melihat banyaknya kain perca sisa industri garmen yang hanya dijadikan sebagai sampah saja,” kata Dedi, yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.

Menurutnya, teramat disayangkan jika sampah industri tersebut harus terbuang sia-sia. Sedangkan dalam suatu perjalanan ke Jawa Timur, yakni di daerah Malang, sempat dilihatnya  kain perca untuk alas buah yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Begitu pula ada yang hanya dijadikan bahan isian pembuatan jok maupun kasur.

“Dari situlah saya mencoba membaca peluang bisnis dari kain perca agar lebih memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” terang Dedi, yang telah lama berkecimpung di industri garmen di Semarang.

Dari pengamatan itulah, Dedi lantas berpikiran untuk menjadikan kain perca tersebut dalam bentuk keset. Namun, pada awalnya memang tidak mudah untuk membentuk sebuah keset secara praktis. Untuk itu, dia berupaya merekayasa pembuatan mesin khusus untuk mengulir kain-kain perca yang ada dan juga mesin tenun.

“Mesin yang ada cukup sederhana, dan merupakan hasil rekayasa sendiri untuk mempermudah pekerjaan membuat keset,” jelasnya.

Saat ini, sejak awal berdiri hingga kini setidaknya ada 4 mesin hasil rekayasa yang telah dimiliki untuk mempropduksi keset. Selain itu, untuk memperbanyak volume produksi, kini pembuatan keset juga melibatkan warga di sekitarnya. (alien)

 

Sumber dikutip dari : http://alienjozz.multiply.com/journal/it…

Posted in bisnis | Comments Off

Menyulap Limbah Kain Jadi 'Keset'

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Dedi Mulyadi Ali :

Menyulap Limbah Kain Jadi ‘Keset’

BERKAT tangan-tangan terampil, limbah kain bekas dari industri garmen yang sebelumnya dianggap sudah tidak memiliki nilai ekonomis lagi, ternyata mampu menjadi barang yang mampu menghasilkan rupiah. Limbah kain perca inilah yang kini dapat menghidupi sejumlah rumah tangga sekitar kampung Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, setelah disulap menjadi ‘keset’.

Adalah H. Dedi Mulyadi Ali, warga Bukit Semarang Baru (BSB) yang memanfaatkan peluang usaha dan memberdayakan masyarakat sekitar. Idenya muncul tatkala dia kerapkali menjumpai limbah kain perca di sejumlah industri garmen yang hanya teronggok tak berguna. Melihat kondisi demikian, bapak 3 putra yang kebetulan bekerja di perusahaan garmen sejak puluhan tahun ini lantas tergerak untuk mencoba mencari peluang dalam memanfaatkan limbah tersebut.

Setelah melakukan survei ke sentra-sentra industri yang ada di Jawa Timur, terlintaslah ide untuk menyulap limbah kain perca itu menjadi ‘keset’ (alas kaki). Setelah melalui berbagai proses uji coba dan pembuatan alat-alat serta mesin pendukung industri yang sederhana, maka pada tahun 2008 dirintisnya home industri berbasis limbah kain perca itu.

Sejak berdirinya hingga saat ini, setidaknya ada 6 karyawan tetap yang membantunya merangkai keset. Selain itu, industri ini juga memberdayakan warga di lingkungan sekitar, yang membantu dengan pembuatan uliran kain dengan kain perca.

“Kami berusaha memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar, dengan cara menyuplai kain perca ke sejumlah rumah tangga untuk dibuat ulir, dan kemudian menyetorkannya kembali dengan upah Rp300/kilogram,” kata pria kelahiran

Aceh 48 silam ini.

Menurut Dedi, meski program keterlibatannya dengan masyarakat ini baru mulai dirintis, namun keterlibatan masyarakat di sekitarnya sudah cukup tinggi. Setidaknya kini ada 60 rumah tangga yang bersedia melakukan kemitraan ini.

“Kami berharap program ini bisa menjadi program kemitraan yang setidaknya dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menambah penghasilan, dan setidaknya kami mentargetkan ada 200 rumah tangga yang nantinya dapat bergabung dan terbentuk sistem klaster industri,” harap Dedi saat ditemui di home industrinya.

Melalui program kemitraan dengan warga sekitar, kini setidaknya dalam sebulan rata-rata dapat diproduksi lebih dari 2.000 pieces keset beraneka macam variasi. Bahkan, dengan ide dan kreatifitasnya, kini tak hanya keset saja yang diproduksi, tetapi juga kain pel, tali, dan sumbu kompor yang volume produksinya masih tergolong minim.

Saat ini setidaknya ada 4 macam variasi keset, yakni keset tenun, bidangan, mutiara dan oval,” ujar mantan atlit tinju nasional, yang kini aktif sebagai pembina tinju di Pertina Kota Semarang.

Untuk bahan baku, lanjutnya, saat ini pihaknya menampung dari berbagai industri garmen yang ada dengan modal pembelian Rp1.250/kilogram. Selain itu, dibutuhkan pula benang seharga Rp300 per gulungan.

“Harga jual untuk per pieces dihargai Rp7.500, dan untuk pembelian dalam jumlah kodi dihargai Rp4.500/pices,” terangnya.

Sedangkan soal pasar penjualan, selain dipasarkan di lokal Semarang, kini produk keset tersebut juga telah menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra. Selain itu, permintaan dalam partai besar juga banyak berdatangan dari Jakarta, Sumatra, dan Kalimantan.

“Untuk pasar Semarang sendiri kini sekitar 50% dan sisanya 50% untuk memenuhi permintaan dari luar kota,” pungkasnya. (alien)

 

 

Belajar Membaca Peluang Bisnis

BERBEKAL pengalamannya di dunia usaha, lelaki kelahiran Banda Aceh 13 Maret 1963 silam ini nampaknya tak pernah mau berhenti untuk berinovasi. Ide kreatifnya selalu muncul tatkala dia melihat adanya peluang-peluang bisnis yang cukup menggiurkan.


“Saya memang selalu ingin mencoba hal baru sebagai tantangan, khususnya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada,” ujar Dedi Mulyadi Ali.

Keinginannya untuk membuka peluang usaha ini juga didukung dengan adanya niat untuk memberikan lapangan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Maka dibuatlah home industri keset, yang berpusat di Perumnas Bukit Beringin Lestari Kapling 33, Ngaliyan, Semarang.

“Ide ini sebenarnya muncul pertama kali saat melihat banyaknya kain perca sisa industri garmen yang hanya dijadikan sebagai sampah saja,” kata Dedi, yang kini aktif sebagai Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.

Menurutnya, teramat disayangkan jika sampah industri tersebut harus terbuang sia-sia. Sedangkan dalam suatu perjalanan ke Jawa Timur, yakni di daerah Malang, sempat dilihatnya  kain perca untuk alas buah yang sebenarnya tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Begitu pula ada yang hanya dijadikan bahan isian pembuatan jok maupun kasur.

“Dari situlah saya mencoba membaca peluang bisnis dari kain perca agar lebih memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” terang Dedi, yang telah lama berkecimpung di industri garmen di Semarang.

Dari pengamatan itulah, Dedi lantas berpikiran untuk menjadikan kain perca tersebut dalam bentuk keset. Namun, pada awalnya memang tidak mudah untuk membentuk sebuah keset secara praktis. Untuk itu, dia berupaya merekayasa pembuatan mesin khusus untuk mengulir kain-kain perca yang ada dan juga mesin tenun.

“Mesin yang ada cukup sederhana, dan merupakan hasil rekayasa sendiri untuk mempermudah pekerjaan membuat keset,” jelasnya.

Saat ini, sejak awal berdiri hingga kini setidaknya ada 4 mesin hasil rekayasa yang telah dimiliki untuk mempropduksi keset. Selain itu, untuk memperbanyak volume produksi, kini pembuatan keset juga melibatkan warga di sekitarnya. (alien)

 

Sumber dikutip dari : http://alienjozz.multiply.com/journal/it…

Posted in bisnis | Comments Off

Berburu Aksesori Unik di Inacraft

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

KOMPAS.com - Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) ke-13 berlangsung 20-24 April 2011 di Balai Sidang Jakarta Conventional Center (JCC). Tak hanya produk kerajinan seperti suvenir yang memanjakan mata dengan desain uniknya. Produk fashion dan aksesori juga tak kalah unik dan menarik. Anda bisa menambah koleksi sepatu, syal, cincin atau kalung unik dengan desain menarik yang khas dari perajin lokal.

Produk kain perca dan rajutan dari Wien’s asal Semarang bisa menjadi pilihan. Tas laptop dari kain perca berwarna cerah semakin cantik dengan aksen pita. Ragam pilihan sandal rajut untuk perempuan juga menarik perhatian pengunjung yang datang. Wien’s juga membuat kerajinan tangan berupa alas kaki rajut untuk pemakaian dalam ruang. Kerajinan tangan rajutan ini dibanderol mulai Rp 50.000 hingga Rp 225.000 untuk sandal perempuan. Sedangkan tas laptop kain perca dibanderol mulai Rp 300.000.

Lain lagi dengan produk batik Zola dari Jakarta. Busana batik yang dirancang dengan ragam model seperti terusan, atasan, hingga syal memberikan kesan stylish. Desain busana batik Zola punya keunikan tersendiri dibandingkan busana lain di area pameran. Busana batik ala Zola memberikan kesan modern dan gaya. Pilihan motif batik juga bervariasi dengan warna bervariasi, mulai gelap hingga warna cerah. Syal batik di Zola juga unik dan khas dengan model bergelombang. Khusus syal batik, Zola memasang harga mulai Rp 125.000 sedangkan terusan batik bervariai di atas Rp 300.000.

Aksesori unik lainnya di Inacraft juga bisa ditemui di gerai perhiasan. Kalung dan gelang dari kayu, serta perhiasan dari bebatuan yang dipadukan dengan manik, menjadi pilihan belanja lainnya di Inacraft 2011. Khusus perhiasan, rentang harga lebih bervariasi mulai Rp 5000 hingga ratusan ribu rupiah. Kerumitan desain dan penggunaan bahan menentukan nilai produk perhiasan unik buatan tangan para perajin lokal ini.

Jika ingin mencari produk berbeda, singgah saja ke pameran tahunan akbar ini di JCC, Senayan, Jakarta. Ragam produk kerajinan tangan dari Indonesia juga sejumlah negara seperti India atau Iran tersedia di area pameran seluas 24.000 meterpersegi ini.

 

Sumber dikutip dari : http://female.kompas.com/read/2011/04/21…

Posted in bisnis | Comments Off

Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

 

oleh: Rasantika M. Seta

Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

Menghias Gorden Jendela dengan Gambar Lucu dari Kain Perca

Gorden dapat dibuat lebih indah dengan menambahkan hiasan pada permukaan kainnya. Hiasan dapat dibuat dari kain perca. Aneka motif bisa dibuat di sana.

Seni kerajinan aplikasi adalah seni sulam dengan cara menempatkan potongan-potongan kain perca yang sudah dirancang atau dipola sehingga membentuk gambar unik. Pola gambar kemudian dipasang pada selembar kain dengan cara dijahit, baik dengan tangan maupun dengan mesin, mengikuti seluruh tepi pola gambar.

Awalnya seni kerajinan aplikasi dilakukan un­tuk me­nambal bagian kain yang rusak de­ngan kain yang ter­sedia dengan tetap memperhatikan ke­indahan. Penempatan dan pemilihan kain sa­ngat diperhatikan. Begitu juga dengan corak dan warnanya. Perpaduan warna kain dan corak yang tepat menghasilkan ragam hias aplikasi yang apik.

Dalam perkembangannya, seni tambal kain perca tak sekadar menambal dengan pola bentuk apa adanya. Corak gambar sengaja didesain dan ditata rapi pada selembar kain. Sama halnya dengan bor­dir dan sulam, seni aplikasi juga tak hanya un­tuk pakaian, tapi juga merambah ke berbagai kebutuhan rumah tangga lain, seperti gorden dan vitrase.

Aplikasi umumnya dipasang pada bahan gorden dan vitrase yang polos. Aplikasi dibuat dari gun­tingan ba­han yang dibentuk sesuai dengan pola hias yang kita inginkan. Pemasangan aplikasi bisa dijahit me­sin atau sulam tangan. Jahitan me­­sin biasanya re­latif lebih rapi dari sulam ta­ngan, se­dang­kan hasil akhir sulam tangan lebih unik dan artistik. (iDEA/Aksentuasi Tirai)

 

Sumber dikutip dari : http://properti.kompas.com/read/2010/05/03/18281720/Menghias.Gorden.Jendela.dengan.Gambar.Lucu.dari.Kain.Perca

Posted in bisnis | Comments Off