Barokah Solutions | Solusi Pasti, Usaha Anda !

Grosir Pulsa (Elektronik, Fisik, Perdana), Software Development, Konveksi, Merchandise, Promotions Gift, Corporate/Visual Branding, Chemical Industries

  • Alamat Kami

    Taman Pondok Mas Indah
    Jl. Pondok Mas Tengah No. 8
    Baros - Cimahi
    Jawa Barat, Indonesia 40532
    Phone :
    022. 7019 1200 / 9110 6181
    Fax :
    022. 664 6249 - 664 8149
    Hotline :
    0818 640 400
    0812 201234 04

  • Bisnis Grup

    Iklan

Archive for Juli, 2011

Kerajinan Kain Perca : Lebih Mahal Karena Handmade

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Sebuah prestasi ditorehkan Cordina (43) saat mengikuti festival quilt tingkat dunia di Tokyo beberapa tahun lalu. Quiltmania mendapat penghargaan sebagai produk quilt atau kain perca dengan kualitas terbaik mengalahkan negara-negara lainnya yang ikut berkompetisi.

Kerapihan jahitan tangan produk-produk Dina menjadi salah satu faktor yang membuat Dina mengalahkan negara pesaing termasuk India yang sudah memproduksi kerajinan kain perca secara massal.

Kualitas produk kain perca, menurut Dina memang dilihat dari proses pembuatannya yaitu handmade. Makin sedikit melibatkan mesin dalam proses produksinya maka produk tersebut makin berkualitas dan makin dicari. Otomatis harganya pun jauh lebih mahal.

Menurut Dina, produknya 80 persen handmade. Kalaupun harus menggunakan mesin, hanya digunakan untuk mempermudah dalam menyambung kain-kain panjang.

“Selain karena nilai seninya yang tinggi, jahitan tangan juga lebih kuat daripada jahitan mesin jahit,” tutur Dina.

Jahitan mesin jahit, jika putus satu maka akan berpengaruh pada benang lainnya sedangkan jahitan tangan tidak. Karena dalam menjahit ada titik-titik tertentu yang tidak tersambung dengan benang lainnya.

Ketelitian dan kesabaran sangat diperlukan karena tidak mudah untuk menyambungkan kain-kain berukuran kecil dengan jahitan tangan. Tak heran jika pengerjaannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika dikerjakan oleh enam orang pun, satu bed cover bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan.

“Tapi kalau sudah menekuni perkerjaan ini maka akan cinta,” ujar Dina.

Setiap bulannya Dina bisa memproduksi 50-100 buah bed cover. Sedangkan untuk produk kecil bisa sampai 500 buah.

Paling mahal Dina pernah menjual produknya sampai RP 6 juta. Sedangkan paling murah satu bed cover untuk ukuran single saja kini harganya Rp 800 ribu.

 

 

Manfaatkan Peluang dengan Kain Perca
Fotografer - Ema Nur Arifah
Bagi sebagian besar orang, kain perca mungkin dipandang sebelah mata. Tapi jika bisa memanfaatkan peluang dan sentuhan seni, kerajinan kain perca atau tekhnik sambung kain ini memiliki pasar yang menjanjikan.

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/

Posted in bisnis | Comments Off

Kerajinan Kain Perca : Terus Bertahan Meski Ngos-ngosan

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Ekonomi Indonesia yang gonjang-ganjing berimbas pada industri makro maupun mikro. Cordina (43) yang merintis Quiltmania sejak 17 tahun yang lalu berjuang untuk terus bertahan meski dalam keadaan terjepit.

“Kita berusaha bertahan meski ngos-ngosan,” ujar istri dari Dowal Simanungkalit (44) ini.

Diakui Dina, dari sisi kuantitas, produktivitas tetap stabil namun biaya operasioal yang harus ditanggung membengkak. Bahkan ada bahan baku yang naiknya sampai 50 persen.

Hal ini disebabkan produk kain dari dua perusahaan yang menjadi langganannya tiba-tiba menghilang dari peredaran.  Dina pun terpaksa menggunakan kain impor sejak empat tahun yang lalu.

Harga kain impor yang lebih mahal membuat Dina harus mengeluarkan ongkos produksi yang lebih banyak. Walaupun secara kualitas kain impor lebih baik dari kain lokal. “Meskipun kita menaikan harga tapi tidak sebesar naiknya biaya operasional,” ujar lulusan Fakultas Hukum Unpad ini.

Diakui Dina dia membutuhkan modal untuk membantu usahanya tetap berjalan lancar. Namun sampai saat ini Dina enggan untuk meminjam pada bank karena ribetnya birokrasi yang harus dilalui. Ketidakpercayaannya pada pemerintah pun membuat dia enggan meminta bantuan dana.

“Sampai saat ini kita masih menggunakan biaya sendiri,” ujar Dina.

Harapan Dina, dirinya bisa berbagi ilmu tentang kerajinan kain perca kepada masyarakat. Mengingat pasar produk kain perca yang menjanjikan menurut Dina usaha ini bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.

Melalui Quiltmania, dia ingin memberdayakan masyarakat khususnya masyarakat sekitar tempat workshopnya di Komplek Cipageran Asri.

“Saya ingin memperlihatkan pada pemerintah kalau kita punya potensi,” ujar Dina yang juga menjadi pengajar di Kriya Tekstil ITB ini.
(ema/ern)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2009/04/20/104623/1118039/681/terus-bertahan-meski-ngos-ngosan

Posted in bisnis | Comments Off

Kain Perca yang Melanglang Buana

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Ema Nur Arifah - detikBandung

Bandung - Bagi sebagian besar orang kain perca mungkin dipandang sebelah mata. Tapi jika bisa memanfaatkan peluang dan sentuhan seni baik yang baik, kerajinan kain perca atau tekhnik sambung kain (pacthwork) ini memiliki pasar yang menjanjikan. Bahkan, perajin kain perca Cordina (43) bisa membawa karyanya terbang ke Korea.

Bersama suaminya Dowal Simanungkalit, Cordina atau Dina merintis usaha kain perca 17 tahun yang lalu. Menurut Dina, kerajinan kain perca ini memang memiliki pasar yang cukup luas. Meskipun dulu dia berkarya di sebuah gang kecil di Sarijadi, karya Dina sudah dicari oleh orang asing.

“Dulu meski di gang kecil di Sarijadi orang asing sampai mencari,” tutur perempuan kelahiran Palembang ini.

Meskipun besar di keluarga yang erat dengan usaha jahit menjahit, Dina memaparkan awal merintis usaha kerajinan kain perca ini terjadi secara kebetulan. Saat itu dia bertemu dengan seorang penjahit dan mendapatkan kecocokan hingga akhirnya memutuskan untuk membuat kerajinan kain perca.

Produk yang dibuat Dina dari kain-kain perca tersebut berupa satu set perlengkapan tidur seperti bed cover, selimut, bantal dan lain-lain.

Kerajinan kain perca khususnya di luar negeri memang bukanlah barang baru. Untuk negara-negara seperti Eropa atau Amerika, kerajinan kain perca ini dinilai cukup tinggi. Proses pengerjaannya yang lebih lama dari pengerjaan tekstil biasa, menjadi daya tarik yang kuat.

Maka bukan isapan jempol ketika Dina menyatakan kalau pasar untuk kerajinan kain perca ini sangat luas. Dalam memasarkan pun bagi Dina bukanlah hal yang sulit.

Sebelum membuka toko di kawasan Kemang, Jakarta, pesanan demi pesanan datang walaupun masih sebatas pelanggan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Bahkan saat Dina beberapa kali melakukan pameran di luar negeri, karya-karyanya pasti laku keras.

“Pelanggan saya dulu ada dari orang Kanada,” tutur Dina.

Tahun 1997 Dina menutup tokonya karena kewalahan produksi. Tahun 2006, tempat produksi pindah ke Komplek Cipageran Asri, Cimahi. Di sana Dina membentuk kelompok Quiltmania yang bisa diartikan maniak kerajinan kain perca. Dari semula bekerja dengan tiga karyawan, Dina sekarang sudah memperkerjakan 15 karyawan tetap dan sekitar 300 tenaga lepas.

Tapi sayangnya Dina belum menggunakan label Quiltmania untuk produk kain perca-nya. Dina masih sebatas memproduksi untuk negara lain yang nantinya menggunakan label negara tersebut. Dina pernah bekerjasama dengan Taiwan dan sejak tujuh tahun lalu beralih mengekspor produknya ke Korea.

Bukannya tidak ingin membuat label sendiri dan melepaskan dari ikatan kerjasama dengan negara lain. Tapi diakui Dina dibutuhkan modal yang tidak sedikit agar usahanya tetap bertahan. Karena Dina pun harus tetap memikirkan keberlangsungan hidup para pekerjanya.
(ema/ahy)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2009/04/20/084820/1117949/681/kain-perca-yang-melanglang-buana

Posted in bisnis | Comments Off

Nasi'in & Harianto Jadi Bos Keset Setelah Gemes Lihat Limbah

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Irawulan - detikSurabaya

Pasuruan - Siapa sangka limbah bisa mendatangkan rupiah. Nasi’in dan Harianto, warga Desa Karang Rejo Kecamatan Purwosari Pasuruan sudah membuktikannya. Dari limbah pabrik konveksi, keduanya kini menjadi bos keset kain perca. Produknya kini membanjiri berbagai kota di luar Jawa. Ide keduanya berawal dari rasa ‘gemes’ melihat tumpukan kain bekas di dekat pabrik yang tidak jauh dari rumah mereka. “Kita langsung datang ke pabrik minta kain bekas tersebut. Kebetulan kita bisa menenun kain. Jadi kloplah,” ungkap Nasi’in kepada wartawan di rumahnya, Senin (21/5/2007). Harga kain perca sisa konveksi relatif mudah didapat, dan harganya pun murah. Bentuk dan motif produksi pemuda desa ini cukup variatif, dari yang bulat, oval, hingga model ketupat juga ada. Nasi’in juga bisa membuktikan usaha yang dirintisnya bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitarnya. Untuk setiap pembuatan satu keset, seorang pekerja mendapat uang jasa Rp 200. “Seminggu sekali setiap pekerja bisa buat keset sampai 75 keset,” jelas Harianto yang mendampingi Nasi’in. Berkat keuletannya itu, keduanya sekarang sudang bisa menikmati hasilnya. Selama 11 tahun bergumul dengan keset, keduanya bercita-cita untuk naik haji. “Mudah-mudah secepatnya saya bisa berhaji bersama keluarga,” kata Nasi’in diamini Harianto. (gik/asy) (gik/asy)

Sumber dikutip dari  : http://surabaya.detik.com/read/2007/05/21/104346/782705/475/nasi-in-harianto-jadi-bos-keset-setelah-gemes-lihat-limbah

Posted in bisnis | Comments Off

Nasi'in & Harianto Jadi Bos Keset Setelah Gemes Lihat Limbah

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Irawulan - detikSurabaya

Pasuruan - Siapa sangka limbah bisa mendatangkan rupiah. Nasi’in dan Harianto, warga Desa Karang Rejo Kecamatan Purwosari Pasuruan sudah membuktikannya. Dari limbah pabrik konveksi, keduanya kini menjadi bos keset kain perca. Produknya kini membanjiri berbagai kota di luar Jawa. Ide keduanya berawal dari rasa ‘gemes’ melihat tumpukan kain bekas di dekat pabrik yang tidak jauh dari rumah mereka. “Kita langsung datang ke pabrik minta kain bekas tersebut. Kebetulan kita bisa menenun kain. Jadi kloplah,” ungkap Nasi’in kepada wartawan di rumahnya, Senin (21/5/2007). Harga kain perca sisa konveksi relatif mudah didapat, dan harganya pun murah. Bentuk dan motif produksi pemuda desa ini cukup variatif, dari yang bulat, oval, hingga model ketupat juga ada. Nasi’in juga bisa membuktikan usaha yang dirintisnya bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitarnya. Untuk setiap pembuatan satu keset, seorang pekerja mendapat uang jasa Rp 200. “Seminggu sekali setiap pekerja bisa buat keset sampai 75 keset,” jelas Harianto yang mendampingi Nasi’in. Berkat keuletannya itu, keduanya sekarang sudang bisa menikmati hasilnya. Selama 11 tahun bergumul dengan keset, keduanya bercita-cita untuk naik haji. “Mudah-mudah secepatnya saya bisa berhaji bersama keluarga,” kata Nasi’in diamini Harianto. (gik/asy) (gik/asy)

Sumber dikutip dari  : http://surabaya.detik.com/read/2007/05/21/104346/782705/475/nasi-in-harianto-jadi-bos-keset-setelah-gemes-lihat-limbah

Posted in bisnis | Comments Off

Nasi'in & Harianto Jadi Bos Keset Setelah Gemes Lihat Limbah

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Irawulan - detikSurabaya

Pasuruan - Siapa sangka limbah bisa mendatangkan rupiah. Nasi’in dan Harianto, warga Desa Karang Rejo Kecamatan Purwosari Pasuruan sudah membuktikannya. Dari limbah pabrik konveksi, keduanya kini menjadi bos keset kain perca. Produknya kini membanjiri berbagai kota di luar Jawa. Ide keduanya berawal dari rasa ‘gemes’ melihat tumpukan kain bekas di dekat pabrik yang tidak jauh dari rumah mereka. “Kita langsung datang ke pabrik minta kain bekas tersebut. Kebetulan kita bisa menenun kain. Jadi kloplah,” ungkap Nasi’in kepada wartawan di rumahnya, Senin (21/5/2007). Harga kain perca sisa konveksi relatif mudah didapat, dan harganya pun murah. Bentuk dan motif produksi pemuda desa ini cukup variatif, dari yang bulat, oval, hingga model ketupat juga ada. Nasi’in juga bisa membuktikan usaha yang dirintisnya bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitarnya. Untuk setiap pembuatan satu keset, seorang pekerja mendapat uang jasa Rp 200. “Seminggu sekali setiap pekerja bisa buat keset sampai 75 keset,” jelas Harianto yang mendampingi Nasi’in. Berkat keuletannya itu, keduanya sekarang sudang bisa menikmati hasilnya. Selama 11 tahun bergumul dengan keset, keduanya bercita-cita untuk naik haji. “Mudah-mudah secepatnya saya bisa berhaji bersama keluarga,” kata Nasi’in diamini Harianto. (gik/asy) (gik/asy)

Sumber dikutip dari  : http://surabaya.detik.com/read/2007/05/21/104346/782705/475/nasi-in-harianto-jadi-bos-keset-setelah-gemes-lihat-limbah

Posted in bisnis | Comments Off

Busana Berbahan Plastik Ramaikan Kediri Fashion Parade

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Samsul Hadi - detikSurabaya

 

Kediri - Tak mau kalah dengan Jember Fashion Carnaval, Kota Kediri mengelar hal yang samal. Menyemarakkan hari jadinya yang ke 1131, Kediri Fashion Parade (KFP) digelar, dengan sejumlah peserta menampilkan busana berbahan dasar limbah plastik dan kertas koran. Meski di jalanan tak mengurangi kemewahan dan kemegahannya.

KFP 2010 dilaksanakan dengan strat Stadion Brawijaya, dan peserta diwajibkan mempertontonkan hasil karyanya menyusuri jalanan Kota Kediri sepanjang hampir 3 kilometer, hingga finish di halaman balai kota. Dalam pelaksanaan yang baru pertama kalinya itu, 629 peserta perseorangan dan kelompok hadir dengan sejumlah rancangan.

Jeris, salah seorang peserta asal Batik Solo Karnaval mengatakan, KFP 2010 diikutinya berdasarkan undangan panitia. Dia menampilkan kreasi busana batik kontemporer, dengan bahan dasar limbas plastik pembungkus, pecahan kaca dan kain perca.

Untuk rancangan tersebut dia harus mengeluarkan kocek pribadi sebesar Rp 500 ribu, dengan pengerjaan dilakukan selama hampir 2 bulan.

“Jadinya ya seperti ini. Beratnya ada sekitar 3,5 kilo dan tentunya lumayan berat,” kata Jeris kepada detiksurabaya.com disela KFP 2010, Sabtu (17/7/2010).

Selain Jeris, sejumlah peserta dari dalam kota juga menempilkan suguhan yang tak kalah menarik. Salah satunya rombongan dari MAN Negeri III Kediri mengusung busana dengan aksesoris kerupuk padang pasir dan limbah pembungkus buah apel, yang dipadukan dengan busana pengantin berbahan dasar kertas koran.

“Yang punya ide murni anak-anak, setelah melihat potensi yang ada di sekitarnya,” ujar Umi, salah seorang guru pembina di MAN III Kediri.

Kegiatan KFP 2010 ini sendiri dilaksanakan dengan konsep yang diakui meniru Jember Fashion Carnaval, dengan tujuan menggali pontensi masyarakat dalam dunia modeling.

“Jujur konsepnya memang menjiplak yang di Jember itu.  Kami ingin dengan kegiatan seperti ini, potensi masyarakat khususnya anak muda di bidang modeling bisa terserap dan tersalurkan,” tutur Kabag Humas Pemkot Kediri Nur Muhyar.

KFP 2010 juga diakui Nur, diharapkan bisa mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Kediri, yang selama ini diakui masih sangat minim.

“Sekali lagi, kalau Jember bisa melakukan dan menjadikannya event tahunan yang diminati, kami juga ingin dan yakin bisa melakukannya,” tandasnya.

(wln/wln)

 

Sumber dikutip dari : http://surabaya.detik.com/read/2010/07/17/184748/1401335/475/busana-berbahan-plastik-ramaikan-kediri-fashion-parade

Posted in bisnis | Comments Off

Tips Dekorasi Rumah: Padu Padan Motif Furniture Dengan Kain Perca

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Jakarta - Tak hanya busana saja yang bisa tabrak motif. Anda juga bisa mendekor rumah dengan aneka motif agar nampak lebih ceria.

Namun tak semua motif bisa dicampur untuk menghiasi rumah. Salah memadupadankan, rumah Anda malah tampak seperti gudang kain perca. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan untuk menghias rumah dengan aneka motif.

1. Motif patchwork (campuran beberapa motif yang tergabung dalam potongan-potongan kain) bisa menjadi pilihan yang unik untuk menghias rumah. Korden, sprei atau taplak motif patchwork akan membuat suasana rumah makin semarak dan bergaya quirky.

2. Jika belum berani mencampur aneka motif yang benar-benar berbeda, Anda bisa memadukan motif yang sama, namun dengan ukuran yang berbeda. Misalnya motif kotak besar dan kecil. Padu padan warna yang senada juga bisa Anda lakukan. Misalnya pilih motif polkadot besar berwarna biru muda, lalu padukan dengan motif polkadot kecil berwarna biru tua.

3.Padanan sentuhan modern dan klasik juga bisa dilakukan. Misalnya peralatan makan dengan motif floral yang klasik dipadukan dengan serbet makan motif garis yang modern.

Korden motif daun Anda akan tampak lebih cantik dengan bantal duduk (cushion) bermotif geometrik yang modern.

Tips: Jika ingin memadukan motif klasik dan modern, sebaiknya pilih warna yang sama agar tak terlalu terlihat bertabrakan.

4. Anda juga bisa memilih motif sesuai dengan tema yang sudah di tentukan.
Misalnya menghias rumah dengan wallpaper bergambar laut. Lalu memadukannya dengan cushion bergambar kerang-kerang yang cantik.

(kee/fer)

 

Sumber dikutip dari : http://www.wolipop.com/read/2010/05/06/113420/1352227/858/tips-dekorasi-rumah-padu-padan-motif-furniture

Posted in bisnis | Comments Off

Libatkan Warga Sekitar untuk Berkreasi

Posted by warungbarokah on 7th Juli 2011

Avitia Nurmatari - detikBandung

Bandung - Usaha pingkan membuat karya dari kain perca tidak semua terlahir dari kedua tangannya. Ia juga mengajak serta warga sekitar untuk berkarya. Ada sekitar 40 orang yang terlibat di Favorita Perca, namun sebagian dari mereka pekerja sambilan. Untuk pekerja tetap hanya ada 20 orang.

“Mereka kan kebayakan petani. Kalau panen mereka ya di sawah, kalau tidak mereka baru ke sini lagi,” terang Pingkan saat berbincang dengan detikbandung.

Pingkan mengaku kesulitan untuk memasarkan produknya karena tidak punya keahlian pemasaran. “Jujur saya bisa bikin, tapi enggak bisa jual, jadi paling teman-teman saya yang bawa. Kalau main ke rumah, mereka bawa. Jadi barang saya ini tahunya dari mulut ke mulut, atau pameran,” terangnya.

Keahlian Pingkan dalam membuat karyanya ternyata tidak belajar dari kursus, ia belajar dari buku. “Belajar dari buku, saya suka sekali membaca,” ungkapnya. Untuk membuat produk dari kain perca ini, tak hanya keterampilan, tapi dibutuhkan kesabaran.

“Saya pikir semua orang bisa membuat karya seperti ini. Tapi ternyata tidak semua orang bisa sabar,” katanya sambil tertawa.
(avi/ern)

 

Sumber dikutip dari : http://bandung.detik.com/read/2010/06/29/113953/1389088/669/libatkan-warga-sekitar-untuk-berkreasi

Posted in bisnis | Comments Off

Unsur Langit & Bumi Dalam Koleksi Terbaru Rodarte

Posted by warungbarokah on 6th Juli 2011

Jakarta - Menyambut musim gugur dan dingin, Rodarte kembali merilis koleksi busana terbarunya. Dalam ajang New York Fashion Week, Rodarte menyuguhkan rangkaian busana dalam warna langit dan bumi.

Dua bersaudara, Laura dan Kate Mulleavy kali ini menciptakan rangkaian tampilan busana yang lembut, cantik dan feminin. Dengan palet warna langit dan bumi, label yang berdiri sejak tahun 2005 ini banyak menggunakan material berupa tenunan kain perca seperti, silk, linen dan wool gauze.

Dikutip dari Telegraph, film-film klasik Amerika seperti ‘The Wizard of Oz’ dan ‘Days of Heaven’ menjadi inspirasi awal desain Rodarte. Koleksi busananya ini didominasi oleh warna sky blue, storm grey, sunset shades dan motif ladang gandum.

“Tetapi ini juga mengarah pada kecantikan ‘Great American Plains’. Bagaimana langit berubah setiap waktu dan cuaca, “ujar Laura Mulleavy.

Dalam koleksi terbarunya ini, Rodarte menawarkan beragam model busana, mulai dari maxi dress yang feminin, jaket, mantel dengan kerah besar hingga vest yang mengikuti lekuk tubuh. Sedangkan untuk detail, Mulleavy bersaudara banyak mengaplikasikan detail lipit dan emboridery.

(eya/eya)

 

Sumber dikutip dari : http://www.wolipop.com/read/2011/02/17/130059/1572843/233/unsur-langit-bumi-dalam-koleksi-terbaru-rodarte

Posted in bisnis | Comments Off